Bullying in School



Kemarin, tanggal 19 Mei 2017, aku “me” time lagi di salah satu café yang gak terlalu ramai pengunjung dan asyiknya wi-fi nya cepat banget. Awal datang ke café ini sih niatnya mau belajar buat Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Kewarganegaraan besoknya. Tetepi yang terjadi adalah…..ya emang aku belajar kok hehe. Nah, setelah aku ngumpulin materi dan baca-baca beberapa jam, barulah aku bosan. Didukung dengan akses internet yang lancar, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri sesi belajarku dan beralih ke streaming tv series, 13 Reasons Why lagi karena emang aku belum selesai nontonnya. Dari awal nonton tv series ini, aku gak tau apa sih intinya. Filmnya yang susah dipahami atau emang aku yang loadingnya lambat beda tipis doang sih. Jadi, setelah menyelesaikan 6 episode dari 13 episode, aku baru ngeh ini intinya apaan. Well, the film is about bullying in Senior High School, dan tragisnya korbannya sampai bunuh diri.
Aku cerita sedikit, ya. Dari SMP aku sekolah di sekolah yang berbasis ajaran Katolik yang peraturan tentang tata karma dan disiplinnya itu luar biasa ketat. Tapi, disamping keketatan peraturan sekolah itu, masih ada aja beberapa murid yang jadi bahan olokan hampir semua murid di satu kelas. Dulu, waktu SMP kelasku di 7-4, ada seorang anak dikelasku who used to be close with me, namanya VP. Pokoknya dulu sering les tambahan bareng, jajan bareng, foto-foto bareng, trus kelompokan juga selalu bareng. Gak tau dari mana awal mulanya, tiba-tiba anak ini jadi ada-ada aja tingkahnya yag membuat satu kelas jadi gerah dan gak mau lagi dekat-dekat sama dia. Karena satu kelas pada ngomongin yang jelek-jelek tentang si VP ini, aku juga jadi ikutan musuhin dia (shame on me). Suatu hari, dia ganti foto profilnya di Facebook, ya emang alay sih tapi wajar karena emang lagi zamannya alay. Most of my friends komen tuh di foto dia, kira-kira gini:
“Ih kayak monyet.”
“Duhhh cantiknya VP~” (sarkas, u know)
“Giginya maju.”
                Siapa yang sangka komentar-komentar itu buat dia sedih, trus dia laporin ke mamanya, dan mamanya aduin ke sekolah. Pada hari itu, wali kelasku masuk dan bacain semua komentar jelek yang ada di facebooknya VP, lalu yang nulis komentar itu dipanggilin ke depan dan ditanyain satu-satu (untungnya aku gak kena karena aku anak baik hihi). Tapi, emang dasarnya pada gak punya rasa takut lagi, setelah kejadian itu, mulai lagi deh pada nge-bully si VP ini secara langsung di kelas maupun nulis status di Facebook. Parahnya ya, kita satu kelas punya buku. Jadi bukunya ini tuh pokoknya setiap anak dapat porsi satu halaman buku, trus bukunya ini tuh setiap hari diedarin sampai semua anak kebagian. Tujuan buku ini adalah buat ngeluarin uneg-uneg yang kita punya ke orang tertentu. Bisa ditebak dong, halaman yang ada namanya si VP ini isinya apa? Ya hate speech semua. VP ngadu lagi dong karena sakit hati, habis itu bukunya disita sama wali kelas. Apakah kalian berpikir tindakan bully ini berhenti? Tidak.
Orangtua VP sampai minta sekolah buat pindahin anaknya ke kelas yang lain. Karena gossip tentang si VP ini udah kesebar di kelas manapun, setelah dia pindah, tetap aja kelas itu bully dia. Tapi kayaknya lebih parah dari kelasku bully dia sih soalnya setahun kemudian dia pindah sekolah sampai ke Kalimantan dan dengar-dengan di Kalimantan dia sering audisi jadi model gitu (yang parahnya tetap kita ledekin juga). Beruntung banget dia gak depresi atau trauma.
Nah, sekarang aku mau masuk ke masa SMA. Siapa sih, yang di SMA nya bersih dari tindakan bullying? Menurutku sih gak ada. Let’s see my class. Ada satu anak di kelasku yang emang aku akui anaknya agak freak, kalo ngomong gak nyambung, tingkahnya aneh-aneh, apalagi ketika berinteraksi sama perempuan, namanya AS. AS ini selalu jadi korbannya teman-teman sekelasku dimulai dari disuruh-suruh beli makanan ke kantin bolak-balik, dipanggil-panggil tapi bukan pakai namanya tapi pakai nama binatang, paling sering disalah-salahin, dan yang paling parah dia ini dianggap kayak suatu benda menjijikan di kelas karena dia bau, dari badan hingga kaus kakinya. Untuk satu hal ini aku setuju kalau dia bau, tapi aku gak permasalahin karena dia duduknya jauh dari tempat dudukku.
Aku gak tau apa yang dipikirin sama mereka berdua ketika disudutkan oleh banyak orang di dalam kelas. Aku gak tau apakah mereka berdua masih punya temen buat ceritain masalah yang mereka hadapin di sekolah. And shame on me, aku juga gak bisa jadi temen buat mereka. Yah, untungnya mereka gak menunjukkan gejala-gejala depresi sih, tapi hati mereka pasti terluka parah. Apalagi gak ada tempat buat meringankan bebannya tersebut.
Memang gak baik menyudutkan orang dengan kata-kata yang keterlaluan kasarnya. Gimana kalo  mereka terlalu terluka sampai punya pikiran buat mengakhiri hidupnya? We should realize that how important every little thing we say to someone. Be kind to everybody, it could save a life.
 Happy friday, have a nice weekend :)!


Comments

Popular posts from this blog

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Meet My Sister

Quality Time With Myself